Wisata dan Sejarah Monumen Melati Malang

Monumen Melati atau biasa dinamakan Monumen Kadet Suropati berada tepat di poros Jalan Ijen Malang dan terletak di depan Museum Brawijaya. Sebuah monumen tinggi yang khas dengan melati di atas. Monumen ini format penghargaan terhadap sekolah yang dimulai pengumpulan Tentara Keamanan Rakyat (sekarang TNI) di daerah. Selain itu juga ada sebagai wujud penghormatan untuk mengenang seluruh pendiri, tenaga pendidik dan senior-senior di TNI. Bunga melati berwarna coklat ini Penghargaan dan apresiasi atas terbentuknya Sekolah Tentara Keamanan Rakyat (TKR). TKR adalah cikal terbentuknya Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sekarang. Sekolah TKR yang memiliki nama Sekolah Tentara Divisi VII Suropati itu sudah tak asing dengan simbol bunga melatinya. Maka diambillah bunga melati sebagai lambang monumen atas appresiasi terhadap TKR.

Monumen ini membentuk dua buah pilar utama setinggi 7 meter5 yang mencerminkan dua brigade yang ada disana. Pada puncaknya merupakan kelopak melati dibuat dari perunggu berhelai 11, ini mencerminkan bulan lahirnya Sekolah Kadet Suropati. Gambar Hongaarse Krul pada pilar utama mencerminkan lencana yang dulu dipakai oleh siswa didik Sekolah Kadet Suropati. Monumen Melati ini diresmikan oleh KASAD Jend. TNI Poniman pada tanggal 17 Desember 1982.

Sekolah ini diberi nama Sekolah Tentara Divisi VIII. Pada tahun 1946 nama Divisi VIII Suropati diganti menjadi Sekolah Tentara Divisi VII Suropati dengan simbol melati tersebut. Di Malang, sekolah ini lebih dikenal dengan nama Sekolah Kadet Malang, karena para siswa-siswanya biasa disebut dengan kadet. Gagasan Pendirian sekolah Penyanyi berawal Dari Kepala Staf Operasi Divisi VIII, Walikota Mutakad Hurip, sepulangnya dari Pertempuran di Surabaya Yang kesatu, sebelum terjadinya pertempuran 10 November 1945. Di Samping itu, pada masa sekolah kadet Yang didirikan oleh pimpinan militer lokal misal di Bukittinggi, Palembang, Brastagi, Mojoagung dan Tangerang. Pemandian Air Panas Cangar, Berwisata Sambil Mandi Sauna di Alam Terbuka

Pembukaan Sekolah Kadet ini diumumkan oleh Walikota Jenderal Imam Sujai selaku Komandan Divisi VIII pada awalnya di bulan November 1945. Ditegaskan kembali sekolah tentara Divisi VII Malang sama dan sederajat dengan Akademi Militer di Jogyakarta. Sekolah Tentara pada mulanya memegang bekas gedung Meisjes HBS (Hoogere Burger School). Beberapa bulan kemudian pindah ke gedung Europeesche Lagere School (Susteran Cor Jesu). Setelah sekolah ini benar-benar tidak bisa mengatur peminat, akhirnya dipindahkan ke asrama bekas Belanda di Jalan Andalas, komplek Angkatan Laut sampai tahun 1947. Setelah diubah, dari jumlah itu lebih 250 orang kadet, tinggal sekitar 80 orang kadet. Pada tanggal 30 November 1946 seluruh kadet angkatan jumlah 68 orang dilantik menjadi Vaandrig oleh Panglima Divisi VII, Jenderal Walikota Imam Sudja’i.

Direktur pertama Sekolah Kadet ini merupakan Walikota Moetakat. Pelamar Sekolah Kadet harus nya berijasah sangat tidak MULO. Rencananya lama pendidikan merupakan dapat. Ketika Agresi Militer Belanda I, 1947, sekolah semula di Malang, dipindahkan ke Malang Selatan. Angkatan kedua Sekolah Kadet ini dibuka pada bulan September 1947. Lama belajar kadet angkatan kedua ini merupakan tiga tahun, sama dengan Akademi Militer di Jogjakarta. Kemudian dalam perkembangannya diadakan terintegrasi antara Sekolah Kadet Malang angkatan kedua dengan Akademi Militer Yogyakarta pada tanggal 7 Juni 1948. Di Sekolah Kadet Malang inilah timbul istilah Perwira sebagai guna Opsir dan Taruna sebagai pengganti Kadet. Selanjutnya istilah ini ditentukan secara nasional. Disamping itu, seluruh kadet sudah memiliki lagu mars kadet Malang yang berjudul ‘Mars Taruna Perwira’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat